Rabu, 04 November 2015

MALANG

Malang ini nii yang sering disebut kota bunga. Di Malang ini jugaak banyak cowo ganteng yang masih jombloo :D Eits, tpi sebelum ngomongin cowo-cowo ganteng jomblonyaa kita bahas dulu yaa tentang budaya, mkanan, dan ciri khas kota Malang.

A. Budaya
     Kekayaan etnis dan budaya yang dimiliki Kota Malang berpengaruh terhadap kesenian tradisional yang ada. Salah satunya yang terkenal adalah Wayang Topeng Malangan (Topeng Malang), namun kini semakin terkikis oleh kesenian modern. Gaya kesenian ini adalah wujud pertemuan tiga budaya (Jawa Tengahan, Madura, dan Tengger). Hal tersebut terjadi karena Malang memiliki tiga sub-kultur, yaitu sub-kultur budaya Jawa Tengahan yang hidup di lereng gunung Kawi, sub-kultur Madura di lereng gunung Arjuna, dan sub-kultur Tengger sisa budaya Majapahit di lereng gunung Bromo-Semeru. Etnik masyarakat Malang terkenal religius, dinamis, suka bekerja keras, lugas dan bangga dengan identitasnya sebagai Arek Malang (AREMA) serta menjunjung tinggi kebersamaan dan setia kepada malang. Sumber : https://dymasgalih.wordpress.com/kota-malang/budaya-malang/

B. Makanan
    Bakso President ->
Bakso telah lama menjadi kuliner khas kota Malang. Meskipun bakso dapat dengan mudah ditemui di kota lain, namun menikmati kuliner ini d kota asalnya tentu saja memiliki sensasi tersendiri. Sebelum akhirnya berlokasi di Jalan Batanghari, bakso ini dijajakan dengan cara dipikul berkeliling.
Mengapa namanya Bakso President? Lokasi yang sekarang digunakan untuk membuka rumah makan, berada di belakang Bioskop President yang sekarang ini sudah beralih fungsi menjadi sebuah pusat perbelanjaan. Satu lagi yang unik dari tempat wisata kuliner ini adalah Anda bisa menikmati bakso di atas meja bergetar. Karena berada tepat di tepi rel kereta api, setiap kali ada kereta lewat, meja tempat bakso Anda akan bergetar. Sumber : http://anekatempatwisata.com/10-tempat-wisata-kuliner-di-malang-yang-wajib-dikunjungi/

C. Ciri Khas 
      Bahasa Walikan Malang berasal dari pemikiran para pejuang tempo doeloe yaitu kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK). Bahasa khusus ini dianggap perlu untuk menjamin kerahasiaan, efektifitas komunikasi sesama pejuang selain juga sebagai pengenal identitas kawan atau lawan.

Jaman penjajahan, banyak pasukan Belanda yang menyusup menjadi mata-mata di dalam kelompok pejuang Malang. Mata-mata ini banyak yang mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan tujuan menyerap informasi dari kalangan pejuang GRK.

Seorang tokoh pejuang Malang pada saat itu yaitu Pak Suyudi Raharno mempunyai gagasan untuk menciptakan bahasa baru bagi sesama pejuang sehingga dapat menjadi suatu identitas tersendiri sekaligus menjaga keamanan informasi. Bahasa tersebut haruslah lebih kaya dari kode dan sandi serta tidak terikat pada aturan tata bahasa baik itu bahasa nasional, bahasa daerah (Jawa, Madura, Arab, Cina) maupun mengikuti istilah yang umum dan baku. Bahasa campuran tersebut hanya mengenal satu cara baik pengucapan maupun penulisan yaitu secara terbalik dari belakang dibaca kedepan. Sumber : http://malangisme.blogspot.co.id/2012/11/kekayaan-ragam-seni-dan-budaya-malang.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar